30 November 2009

Kebersamaan dan Kekompakan adalah Modal Utama Kami











Gbr.1 Saat menerima Ongkos hasil cari dana.

Gbr 2. Foto bersama Ibu dan Bapa Endah

Pagi itu mentari pagi di hari jumat menunjukan, tepat pukul 07.30 WIB. Hari itu tangal 27 November 2009, hari libur, Hari Raya Idul Adha.Seorang teman membuat saya sadar dari tidur, bangun, kita harus kerja untuk cari dana” katanya memgampiri. Saya tidak bisa membanta meski rasa ngantuk masih menyelimuti seluruh badan. Ya, sesuai rencana beberapa waktu lalu, hari ini kami akan bekerja untuk mencari dana.
Waduh nampaknya kali ini kami harus bekerja keras lagi agar misi yang sedang kami rencanakan dapat berjalan dengan suksek, yakni menyusekskan Ibadah Natal IPMAPAN Kota Study Bogor.Banyak hal telah kami lakukan untuk menggalang dana, diantaranya membuat proposal, menjual barang bekas , sumbangan sukarela, mencari borongan, dan yang lebih parah lagi adalah ketika kami harus mempertaruhkan harga diri kami untuk ngamen di tempat-tempat
keramaian.
Membanting tulang dan mandi keringat rupanya sudah menjadi sahabat setia yang selalu mendapingi kami ketika sedang beraksi di dalam medan kerja keras.Namun rupanya bagi kami, itu bukanlah halangan yang berarti, karena itu hanyalah tantangan.Nah!, Kini saatnya untuk bekerja lagi. Baranang Siang rupanya tempat yang akan menjadi sasaran kami. Kami pun berangkat dari Darmaga menuju Baranang Siang.
Kami berkumpul di depan kampus IPB D3, Baranang Siang. Setelah menunggu beberapa teman yang belum juga datang, kami pun menuju ke rumah Pak Suaenda. Nampaknya Pak Suenda adalal orang bersedia memberikan kami kesempatan untuk bekerja.Kerja ini dipimpin oleh Kak Junior Douw. Pekerjaan pun dimulai. Kami mulai bekerja tepat pukul 09.00 WIB dan berakhir pukul 14.30. Kekompakan adalah modal kami yang utama, maka kami tidak ragu, pekerjaan ini pasti selesai. Setelah dibagi tugas sesuai keahlian masing-masing oleh Kak Sipri Adii, kami pun mulai bekerja.
Kak John bekerja memangkas bunga pagar hidup yang sudah panjang dan hampir melewati ketinggian rumah Pak Suenda. Kak Sipri dan Maximus memangkas ranting pohon mangga yang sudah lebat bagaikan pohon beringin yang bergelantungan akarnya. Kak Junior membersikan bak pupuk kompos yang nampaknya sudah penuh dan berbau bahkan sudah dihuni oleh ribuan rayap dan kecoak. “Waduh rupanya mengerikan juga ya?” pikirku dalam hati.
Kak Paskalina Douw yang sering disapa Padox bertugas menyapu halaman yang dipenuhi dedauna kering berwarna coklat. Kak Padox tentu saja tidak sendirian menyapu halaman. Ia dibantu Clara, Anny, Karla, Analis, Ana, dan Betty, pokoknya, bidadari bogor deh…. Kak Marinus, Kak Peyo, Kak Yus Nawipa, Dani Badii, harus bekerja lebih keras lagi, soalnya mereka selain, mengangkat ranting mangga yang dipangkas oleh Kak Sipri dan Maximus, mereka berempat juga harus menata rapi ranting-ranting tersebut. Waduh kasihan juga ya?
Limah setengah jam waktu bekerja pun berlalu dengan cepat. Tidak terasa dengan bauh-membahu pekerjaan kami pun selesai dengan hasil yang baik. Rumah yang sebelumnya bagaikan dalam kegelapan, kini bisa mendapatkan sinar sang surya. Dari segala sisi keindahan halaman rumah tersebut tampak mempesona. kekompakan kami dalam bekerja membuahkan hasil yang positif, karena sesuai dengan apa yang diinginkan pemilik rumah.Kami pun bernafas dengan legah. “Nak, mari makan, ibu udah siapkan makanan buat kalian“ kata Bapak Suenda. Nampaknya keluarga ini memiliki rasa kekeluargaan dan berhati mulia. Kami pun makan siang.
Setelah acara makan bersama berakhir dengan saling berbagi pengalaman antara keluarga Pak Suenda dengan kami, Kemudian kami diberikan imbalan yang besar sebagai ucapan terima kasih. Kami senang. Tidak terduga kami akan mendapat imbalan sebesar itu. Kami pun berfoto bersama keluarga tersebut dengan senyum bahagia.Amplop yang berisi uang itu kemudian berpindah ke tangan Kaka Sipri. Kami pun bersalaman bertanda kami akan pamit.
Selang satu menit kemudian kami meninggalkan rumah Bapak Suenda yang indah ibarat taman firdaus. Keramaian kendaraan dan panas terik matahari seolah-olah mengantar kepergian kami. Setiap langgka, kami langgkakan dengan hati yang penuh riang bercampur gembira.Kegembiran kami akhirnya tidak dapat dibendung. Kami pun memutuskan untuk bermain voly di tanah lapang di persimpangan jalan tempat mahasiswa IPB berpraktik. Permainan pun dimulai. Canda dan tawa menghiasi jalannya permainan. Kami larut dalam kebersamaan itu. Tak terasa waktu yang terus berjalan menghantarkan permainan kami tepat pada jam enam sore dan rupanya kami sudah kelelahan. Kami pun begegas kembali ke kontrakan kami masing-masing.
Terima kasih buat Bapak Endah dan Ibu Endah yang telah memberikan kami pekerjaan. Puji dan syukur bagimu Tuhan atas pertolonganmu bagi kami. (deto-Rigo)

2 komentar:

Auki Gabriel Tekege mengatakan...

Ayo, cari dana lagi. Kan mau Pekan mahasiswa IPMANAPANDODE Se-Jewa dan Bali!

Mau tidak?

ipmadi mengatakan...

teman teman kita sudah bentuk ipmado nabire
ipmadonabire@gmail.com NABIRE bemberitahuan lesmi dalam agenda mahasiawa kepada pemerintah daerah kabupaten dogiyai ,dan kami usulkan kepada biro pemerintah daerah dogiyai harus agendakan atau perdakan pasar budaya lebih khusus untuk suku mee karena Dogiyai adalah tanah buday tanah keramat dan masyarakat social budaya ini harus di sisikan satu tempat dan pemerintah harus memperhatikan daya hidup masyarakat bahwa saya atas nama Agus Tebai usulkan bahwa masyarakat harus

Posting Komentar